Langsung ke konten utama

Seputar Penghentian K13

Penghentian pelaksanaan K13 di tengah jalan menyebabkan Guru harus bekerja ekstra keras, khususnya dalam menerapkan metode penilaian siswa. Karena di kurikulum 2013 penilaian siswa dilakukan menggunakan huruf (bukan angka) dalam enam lembar format, sementara di KTSP 2006 penilaian dilakukan menggunakan angka dan hanya memakai dua lembar form
Hari ini Hampir seluruh media memberitakan Surat Edaran menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menghentikan penggunaan kurikulm 2013, terutama bagi sekolah yang baru melaksanakannya selama satu semester. Sejak kelahirannya, kurukulum 2013 memang telah memunculkan banyak polemik dan kontroversi di kalangan dunia pendidikan.

Dari sudut pandang gagasannya, kurikulum 2013 memang mengusung teoeri kependidikan mutakhir yang lebih berpihak pada pemantapan keimanan, karakter, kepribadian serta keahlian para perserta didik. Namun banyak pihak memandang pelaksanaannya terlalu tergesa-gesa dan seakan dipaksakan. Konsep dan indikatornya dianggap belum jelas atau masih "mengambang" sehingga membingungkan guru dan murid.


Makanya setelah melakukan sejumlah kajian terhadap imlementasi kurikulum yang sedang berjalan, akhirnya kemarin (Jum'at, 5/12) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengumumkan hasil evaluasi Kurikulum 2013. Paling tidak ada tiga keputusan yang diumumkan sebagaimana dikutip dari republika.co.id berikut :


PERTAMA : Menghentikan Kurikulum 2013 untuk sekolah yang baru menyelenggarakannya selama satu semester dan kembali menggunakan Kurikulum 2006.

KEDUA : Melanjutkan K13/Kurtilas (begitu sebutan populernya) bagi sekolah yang telah melaksanakannya selama tiga semester sebagai sekolah percontohan. Khusus bagi sekolah yang merasa belum sanggup bisa melaporkannya ke Kementerian Pendidikan.

KETIGA : K13 diserahkan pada Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) serta Unit Implementasi Kurikilum (UIK). Dengan begitu perbaikan terhadap K13 tidak berhenti, melainkan akan diperbaiki dan dikembangkan di sekolah percontohan.

Lebih lanjut pak menteri mengatakan bahwa pihak Kemendikbud tidak berniat untuk mengubah Kurikulum 2013. Program kementeriannya saat ini adalah menyempurnakan kurikulum yang sudah ada. Beliau berharap hasil evaluasi dari Tim Evaluasi Kurikukum yang dipimpin oleh Dirjen Pendidikan Menengah secepatnya dapat diketahui supaya dapat diterapkan pada periode belajar semester II mendatang.

Menanggapi keluarnya keputusan menteri ini, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistiyo, menyatakan gembira dengan keputusan itu. Menurut dia, kurikulum 2013 memang belum siap untuk diaplikasikan. "Masalahnya bukan hanya di kesiapan guru dan sekolah, tapi secara substantif kurikulum itu memang banyak salahnya," begitu kata dia seperti dilansir tempo.co, hari ini.

Meski secara umum penghentian pelaksanaan K13 ini disambut baik oleh banyak pihak, tentu saja ada beberapa persoalan yang mesti segera diselesaikan, mengingat pelaksanaan pembelajaran semester I sudah memasuki tahap ujian dan penerimaan raport. Demikian pula dengan proyek pencetakan buku pelajaran yang sepenuhnya dibiayai dari APBN 2014.

Salah seorang praktisi pendidikan menyebut bahwa penghentian pelaksanaan K13 di tengah jalan ini menyebabkan Guru harus bekerja ekstra keras, khususnya dalam penilaian siswa. Karena di kurikulum 2013 penilaian siswa dilakukan menggunakan huruf (bukan angka) dalam enam lembar format, sementara di KTSP 2006 penilaian dilakukan menggunakan angka dan hanya memakai dua lembar form. Jadi pastinya banyak harus diubah bila penilaian kembali ke format raport yang lama.

Namun menurut kompas.com, Mendikbud sebenarnya telah memberi penegasan terhadap kedua masalah ini. Soal kontrak yang telah ditanda-tangani, agar segera dituntaskan dan bukunya disimpan di perpustakaan sekolah. Dan untuk yang belum, tidak perlu dilanjutkan. Karena putusan pemberhentian kurikulum 2013 dinyatakan baru akan berlaku efektif mulai mulai semester genap Tahun Pelajaran 2014-2015. "mulai Januari, Pokoknya berhenti," ujar Anies.

kalau memang benar demikian, semoga Surat Keputusan Menteri yang rencananya akan dikirim hari ini ke sekolah-sekolah turut memuat penegasan-penagsan itu, sehingga dapat memberi kepastian bagi pelaksanaan proses kegiatan belajar mengajar yang tengah berlansgung. Dan yang paling penting adalah bahwa keputusan tersebut memang didasarkan atas perhatian dan upaya untuk memajukan pendidikan nasional, bukan hanya semata-mata asal "berubah" atau sekedar mengedepankan hegemoni politik atau kepentingan kelompok tertentu.
http://wasdikmad.blogspot.com/2014/12/seputar-penghentian-k13.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekali Membentak Ribuan Sel Otak Anak Rusak

"Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.” Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah. Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monit...

Media Pembelajaran, Bekal atau Beban?

"Wahai Abi Dzar, perkokohlah perahumu karena samudera itu sangat dalam, perbanyak bekalmu karena perjalan masih panjang dan kurangilah bebanmu" Demikian bunyi salah satu potongan mahfudzat (Hafalan Kata Mutiara Arab) yang sangat akrab dikalangan para santri. Meski orientasi Mahfudzat yang bersumber dari hadits riwayat Dailamy ini lebih kepada memperbanyak amalan dan mengurangi dosa, konsep “Bekal versus Beban” yang diusungnya tampak relevan dalam banyak ranah kehidupan. Dalam kondisi seseorang menghadapi perjalan jauh, ketika ia mempersiapkan bekal finansial, pakaian, perlengkapan dan berbagai hal yang akan dipergunakan selama dalam perjalanan, jelas hal itu menyita waktu dan menjadi beban sebelum perjalanan. Namun ketika ia tidak meluangkan waktu untuk menyiapkan bekalnya, besar kemungkinan dalam perjalanan tersebut ia akan mengalami kesulitan dan merasa terbebani kala benda-benda yang ia butuhkan tidak tersedia. Dihubungkan dengan tugas keseharian seorang guru, kegiat...

TPG Madrasah Kuansing Masih Terkendala

Dalam salah satu edaran Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kuantan Singingi tentag pedoman dan persyaratan pencairan Tujangan Profesi Guru Madrasah tahun 2015 tertulis bahwa pada tanggal 1 April 2015, dana sudah bisa di cek di rekening masing-masing guru. Namun sampai senin 27 April, dana tersebut masih belum ada tanda-tandanya. Image : beritakawanua.com Ketika dikonfirmasi dalam sebuah pertemuan bersama tim pengelola tenaga pendidik dan kependidikan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Riau, Drs. Alfiani selaku kasi penmad Kemenag Kuansing menjelaskan bahwa saat itu pihak Kemenag tengah melaksanakan revisi anggaran ke Kemenag RI (pusat), sehingga pencairan baru dapat dilasakankan setelah revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) selesai. Sejak Rabu, 6 Mai 2015, terdengar kabar bahwa revisi DIPA telah selesai. Ironisnya, kabar itu menyebutkan bahwa dana Tunjangan Profesi Guru (TPG) Madrasah tidak berubah, yakni tetap hanya cukup untuk 40 orang tenaga pendidik profesion...