Langsung ke konten utama

Mereka Meniru Anda, Orang Tuanya

ada wilayah "merah" yang tidak boleh dilakukan di depan anak-anak, sehingga nantinya tidak perlu kawatir bahwa pada suatu saat anak akan berdalih, "Ini bukan yang dikatakan ayah dan ibu, tapi ini lah yang dilakukan ayah dan ibu,"


Banyak hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang dewasa sesungguhnya memberi contoh buruk tanpa mereka pernah sadari. Salah satunya seperti dalam lagu Sule:

"Papa,.. telepon.."
"Halo Om, si Papa bilang gak ada"

Kata-kata seperti itu sering kali menjadi pesan para orang tua kepada pasangannya, pembantu, bahkan pada anak mereka. Mungkin karena malas berbicara dengan si penelepon, menghindari bertemu dengan seseorang seperti penagih hutang (debt collector), takut dimintai bagian dalam proyek lelang dan lain sebagainya.

Meski kadang dianggap sepele, cara tersebut sebenarnya telah memberi contoh bagaimana berbohong kepada anak. Sehingga ketika mereka melihat orang tua berbohong dengan mudah, mereka pun akan berkata pada diri sendiri, "Boleh kok berbohong. Ayah dan ibu juga melakukan itu".

Demikian pula halnya dengan menjanjikan sesuatu semisal memberi hadiah, membelikan baju dll yang akhirnya tidak dipenuhi, menggosip, mencela, bertengkar dengan pasangan ataupun menonton tayangan yang tidak baik di hadapan mereka yang akan memberi kesan bahwa semua itu bermakna "boleh" meski dihiasi dengan kata "tidak". Sebabnya jelas, karena setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci :


قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yg menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

Membesarkan anak merupakan tanggung jawab luar biasa besar. Para orang tua merupakan subjek "perekam" yang mengisikan banyak warna dan suara kepada anak. Mereka adalah model yang paling dekat dengan anak. Makanya harus senantiasa diingatkan bahwa ada wilayah "merah" yang tidak boleh dilakukan di depan anak-anak. Tentu tak ada orang tua yang menginginkan bila suatu saat anak berdalih, "Ini bukan yang dikatakan ayah dan ibu, tapi ini lah yang dilakukan ayah dan ibu,"

Dalam konteks ini, mungkin perlu diingat kembali sebuah sajak pendidikan anak yang cukup terkenal, warisan Dorothy Law Nolte :

jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki

jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
ia belajar rendah diri

jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
ia belajar menyesali

jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi

jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri

jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai

jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri

jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan

jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi diri

jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik,
ia belajar adil


Bagaimana cara anda dibesarkan? dan bagaimana anda membesarkan anak-anak?


http://wasdikmad.blogspot.com/2014/12/mereka-meniru-anda-orang-tuanya.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekali Membentak Ribuan Sel Otak Anak Rusak

"Tahukan Anda di dalam setiap kepala seorang anak terdapat lebih dari 10 trilyun sel otak yang siap tumbuh. Satu bentakan atau makian mampu membunuh lebih dari 1 milyar sel otak saat itu juga. Satu cubitan atau pukulan mampu membunuh lebih dari 10 milyar sel otak saat itu juga. Sebaliknya 1 pujian atau pelukan akan membangun kecerdasan lebih dari 10 trilyun sel otak saat itu juga.” Dari beberapa artikel dan penelitian disebutkan bahwa, satu bentakan merusak milyaran sel-sel otak anak kita. Hasil penelitian Lise Gliot, berkesimpulan pada anak yang masih dalam pertumbuhan otaknya yakni pada masa golden age (2-3 tahun pertama kehidupan, red), suara keras dan membentak yang keluar dari orang tua dapat menggugurkan sel otak yang sedang tumbuh. Sedangkan pada saat ibu sedang memberikan belaian lembut sambil menyusui, rangkaian otak terbentuk indah. Penelitian Lise Gliot ini sendiri dilakukan sendiri pada anaknya dengan memasang kabel perekam otak yang dihubungkan dengan sebuah monit...

Media Pembelajaran, Bekal atau Beban?

"Wahai Abi Dzar, perkokohlah perahumu karena samudera itu sangat dalam, perbanyak bekalmu karena perjalan masih panjang dan kurangilah bebanmu" Demikian bunyi salah satu potongan mahfudzat (Hafalan Kata Mutiara Arab) yang sangat akrab dikalangan para santri. Meski orientasi Mahfudzat yang bersumber dari hadits riwayat Dailamy ini lebih kepada memperbanyak amalan dan mengurangi dosa, konsep “Bekal versus Beban” yang diusungnya tampak relevan dalam banyak ranah kehidupan. Dalam kondisi seseorang menghadapi perjalan jauh, ketika ia mempersiapkan bekal finansial, pakaian, perlengkapan dan berbagai hal yang akan dipergunakan selama dalam perjalanan, jelas hal itu menyita waktu dan menjadi beban sebelum perjalanan. Namun ketika ia tidak meluangkan waktu untuk menyiapkan bekalnya, besar kemungkinan dalam perjalanan tersebut ia akan mengalami kesulitan dan merasa terbebani kala benda-benda yang ia butuhkan tidak tersedia. Dihubungkan dengan tugas keseharian seorang guru, kegiat...

TPG Madrasah Kuansing Masih Terkendala

Dalam salah satu edaran Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kuantan Singingi tentag pedoman dan persyaratan pencairan Tujangan Profesi Guru Madrasah tahun 2015 tertulis bahwa pada tanggal 1 April 2015, dana sudah bisa di cek di rekening masing-masing guru. Namun sampai senin 27 April, dana tersebut masih belum ada tanda-tandanya. Image : beritakawanua.com Ketika dikonfirmasi dalam sebuah pertemuan bersama tim pengelola tenaga pendidik dan kependidikan Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Riau, Drs. Alfiani selaku kasi penmad Kemenag Kuansing menjelaskan bahwa saat itu pihak Kemenag tengah melaksanakan revisi anggaran ke Kemenag RI (pusat), sehingga pencairan baru dapat dilasakankan setelah revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) selesai. Sejak Rabu, 6 Mai 2015, terdengar kabar bahwa revisi DIPA telah selesai. Ironisnya, kabar itu menyebutkan bahwa dana Tunjangan Profesi Guru (TPG) Madrasah tidak berubah, yakni tetap hanya cukup untuk 40 orang tenaga pendidik profesion...